Dahulu kala, Bukit Beluan yang berada di Nanga Tepuai dan Bukit Amapan
yang berada di Nanga Pedian adalah dua bukit yang bersatu. Tingginya
hampir mencapai langit. Untuk naik ke langit cukup menggunakan akar
beruru (sejenis akar hutan). Akar beruru tersebut, sering digunakan oleh
Demang Nutup (orang kayangan) untuk turun ke bumi.
Pada suatu hari anak Demang Nutup sangat ingin makan ikan. Karena
hastrat anaknya tersebut turunlah Demang nutup ke bumi, menuju ke suatu
lubuk yang bernama Sarai Dalip. Ia membawa perlengkapan seperti jala,
beriut (sejenis anyaman dari rota yang berfungsi seperti tas) untuk
membawa ikan ke kayangan.
Sesampai di lubuk Sarai dalip, Demang Nutup pun menebarkan jalanya ke
sungai. Ia banyak sekali mendapatkan ikan tamun (sejenis ikan sepat).
Setelah banyak mendapatkan ikan, ia kembali ke kayangan. Tiba di
kayangan ia memasak ikan tamun tersebut. Selesai memasak, ia menyuruh
anaknnya untuk makan. Anaknya pun mulai memakan ikan tamun tersebut.
Karena kurang hati-hati, anaknya ketulangan ikan. Demang Nutup berusaha
meneluarkan tulang ikan di kerongkongan anaknya, namun tidak berhasil.
Melihat kejadian tersebut, Demang Nutup sangat marah. Karena marahnya
Demang Nutup pun berniat untuk mengangkatkan bukit beluan untuk menutupi
sungai Embau agar manusia tidak bisa melewati sungai tersebut.
Setelah jauh ia mengangkat bukit tersebut, ia bertemu dengan kawannya
di Lokan Maram, kawannya tersebut memanggilnya.”
O…. Demang Nutup hendak
kemanakah engkau? singgahlah Demang Nutup ke tempat orang tersebut yang
sedang duduk di Lokan Maram yang berada di belakang Nanga Pedian.
mereka berdua pun bercerita. Ketikan Demang Nutup hendak meneruskan
perjalanannya mengangkat bukit, tiba-tiba bukit tersebut terbenam di
Lokan Maram dan tidak dapat diangkatnya lagi.
Kemudian Demang Nutup pun berangkat ke hilir Emabau dan singgah di
Ntilang Bosi, nama suatu tempat di hilir Jongkong. Demang Nutup pun
membuat pondok di tempat tersebut untuk bercocok tanam. Sambil bercocok
taman, ia membuat membuat perahu untuk berangkat ke Jawa, karena ia
ingin bertemu dengan raja Cina. Ia membuat perahu dari kayu tangkung
bekakak. Laju perahu tersebut ibarat besi dijatuhkan dan haluan dapat
ditangkap di kemudi perahu. Di bawah perahu tersebut ia membuat semacam
sebuah tempat yang dapat digunakan untuk membawa peralatan.
Setelah perahu tersebut selesai, Demang Nutup menjemur padi di
Ntilang Bosi. Kemudian ia berangkat ke Jawa. Setelah sampai ke tanah
Jawa, ia disambut oleh raja Cina. Ia dijamu dengan makanan oleh raja
Cina. Pada waktu jamuan makan tersebut, Demang Nutup ditanya oleh raja
Cina nama serta asalnya. Demang Nutup menceritakan bahwa dia berasal
dari Kalimantan Barat.
Setelah ia kembali dan hadapan raja tersebut, raja Cina memerintahkan
kepada prajurit untuk memperlakukan Demang Nutup dengan baik. Pada
suatu hari, pelayan raja Cina mengantar makanan Demang Nutup ke
perahunya. Namun setelah selesai, semua peralatan makan yang ia gunakan
tidak pernah dikembalikan. Rupanya piring tersebut dimasukannya ke bawah
perahunya. Begiti seterusnya sampai beberapa hari.
Melihat kejadian tersebut, raja Cina curiga dan bertanya kepada
Demang Nutup, kenapa piring, cawan yang engkau pakai tidak pernah
engakau kembalikan kepada kami, Nenek Demang Nutup menjawab bahwa ia
tidak tahu.
Karena curiga, Raja Cina menangkap dan menahan Demang Nutup. Dalam
perjalanan ke tahanan Demang Nutup sempat mencabut keris Majapahit dan
menancapkannya ke pohon pisang jawa. Seketika itu, hari pun menjadi
gelap seolah-olah malam terus dan tidak pernah siang kembali. Melihat
kejadian itu, raja Cina pun menjadi heran. Ia menduga pasti ini ada
kaitan dengan kekuatan dari orang yang mereka tangkap.
Akhirnya Demang Nutup pun dibebaskan oleh mereka. Raja Cina bertanya
kepadanya perihal penyebab hari yang terus-menerus gelap selama Demang
Nutup berada dalam tahanan. Demang Nutup menjawab, baiklah kalau begitu,
tapi aku memiliki syarat kepada kalian. Apa yang engkau syaratkan, kata
raja Cina, keris Majapahit yang aku tancapkan di pohon pisang Jawa yang
menyebabkan hari selalu gelap aku berikan kepada kalian. Piring yang
aku pakai untuk makan, aku membawanya pulang ke Kalimantan. Raja Cina
pun menyanggupi syarat tersebut. Kemudian Demang Nutup kembali ke
Kalimantan dan singgah di Ntilang Bosi dan berumah tangga di tempat itu.
Anak-anak dari nenek Demang Nutup tidak ada yang menjadi manusia,
tetapi menjadi buaya di Sungai Kapuas. Karena itu orang Embau tidak
pernah mati dimakan buaya, karena asal keturunan mereka dari nenek
Demang Nutup.
oleh: Yati Herdayanti (http://mabmonline.org)

No comments:
Post a Comment