X-Steel - Wait Be.Project
~ SEMOGA BERMANFAAT DAN BERGUNA UNTUK ANDA ~

Wednesday, May 27, 2015

EXPLORER IN HULU KAPUAS "NA.BUNGAN & TANJUNG LOKANG"

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Buat sebagian orang nama Tanjung Lokang mungkin masih terdengar asing dan kurang menarik. Tapi kampung terakhir di perhuluan Sungai Bungan (salah satu anak Sungai Kapuas) ini sudah lama menjadi buah bibir di kalangan wisatawan mancanegara. Terutama mereka yang mencintai wisata lingkungan, para petualang penggemar trekking jarak jauh serta para peneliti. Diperlukan waktu kurang lebih dua hari dengan perahu bermesin tempel untuk mencapai desa ini. Dan sepanjang perjalanan, wisatawan akan disuguhi pemandangan alam yang menggugah panca indera. Tak kurang burung bekakak, enggang badak, berang-berang sungai dan berbagai macam kupu-kupu dapat ditemui dengan mudah. Jika beruntung, tidak mustahil dapat melihat bekantan dan enggang gading, primadona belantara Kalimantan yang terkenal pemalu itu.
Selain pemandangan alam yang
terbilang masih perawan, perjalanan menuju desa yang dihuni oleh masyarakat Punan Hovongan ini merupakan petualangan tersendiri. Jeram-jeram ganas siap menghadang perahu dengan ombak dahsyat serta batu-batu megalitik yang mampu menghancurkan benda apapun yang menghantamnya. Tak jarang penumpang harus turun dan ikut menarik perahu bersama sang motoris dan juru batu jika jeram yang dihadapi tak bersahabat. Tak kurang sekitar dua puluh jeram sepanjang perjalanan ke Tanjung Lokang. Tiga yang terganas diantaranya adalah Riam Bakang, Homatop dan Hororoy. Sungguh petualangan yang sesungguhnya.


Sesampai di Tanjung Lokang, wisatawan akan menemui kehidupan yang berbeda. "Serasa dilempar ke masa lalu", itu yang sering terlontar dari bibir mereka. Hal itu tidak berlebihan mengingat masyarakat Punan Hovongan yang merupakan salah satu sub etnis Dayak ini masih memelihara adat istiadat dan tradisi turun temurun. Mereka masih menambang emas dan berladang secara tradisional. Dan walaupun sudah tidak tinggal dalam suatu rumah panjang, rumah mereka masih berdiri di atas pancang-pancang kayu. Masih terlihat pula orang-orang bertato tribal bertelanjang kaki keluar masuk hutan dengan mandau di pinggang.  Para penduduk selalu ramah menyambut kedatangan para tamu. Kopi dan rokok adalah sajian yang tidak pernah terlupa. Tarian penghormatan ditampilkan.  Para tetua tidak pernah enggan menjawab pertanyaan tetamu tentang asal usul dan adat istiadat setempat. Bahkan jika pandai mengambil hati dan membujuk, mereka tak sungkan menyangon (menyanyikan kidung sejenis mantra – red) sebuah keahlian yang kini hanya dimiliki oleh para sesepuh saja.
Menumbuk padi, membuat perahu, bersampan ke hulu sambil mencari ikan atau berburu adalah beberapa kegiatan sehari-hari yang dapat dilakukan bersama masyarakat setempat. Jika senang trekking, kampung Bu'ung dapat menjadi tujuan singkat. Tanjung Lokang juga memiliki gua-gua bernilai sejarah yang dapat dieksplorasi, seperti Diang Kaung dan Diang Peyang yang didalamnya terdapat lukisan tentang kehidupan masa lalu dan Gua Tahapun yang menyimpan rahasia penguburan para leluhur. Pencinta trekking dapat mencoba Cross Broneo Expedition, ekspedisi melintasi hutan rimba di pegunungan Muller hingga ke perbatasan Kalimantan Timur yang memakan waktu kurang lebih dua minggu.
Kehidupan sederhana di Tanjung Lokang sebenarnya didukung pula dengan minimnya teknologi yang tersedia sebagai akibat mahalnya biaya transportasi dan beratnya medan perjalanan untuk mencapai desa ini. Minimnya listrik tergantikan dengan langit cerah bertabur bintang dan suara jangkrik yang riuh mengantar tidur. Dan siapa yang butuh biusan sinetron di televisi serta internet apabila ada berbagai macam kegiatan yang bisa dilakukan. Begitulah Tanjung Lokang, permata cantik di paru-paru dunia.

No comments:

Post a Comment