Buat
sebagian orang nama Tanjung Lokang mungkin masih terdengar asing dan
kurang menarik. Tapi kampung terakhir di perhuluan Sungai Bungan (salah
satu anak Sungai Kapuas) ini sudah lama menjadi buah bibir di kalangan wisatawan
mancanegara. Terutama mereka yang mencintai wisata lingkungan, para
petualang penggemar trekking jarak jauh serta para peneliti. Diperlukan
waktu kurang lebih dua hari dengan perahu bermesin tempel untuk mencapai
desa ini. Dan sepanjang perjalanan,
wisatawan akan disuguhi pemandangan alam yang menggugah panca indera.
Tak kurang burung bekakak, enggang badak, berang-berang sungai dan
berbagai macam kupu-kupu dapat ditemui dengan mudah. Jika beruntung,
tidak mustahil dapat melihat bekantan dan enggang gading, primadona
belantara Kalimantan yang terkenal pemalu itu.
Selain
pemandangan alam yang
terbilang masih perawan, perjalanan menuju desa yang dihuni oleh masyarakat Punan Hovongan ini merupakan petualangan tersendiri. Jeram-jeram ganas siap menghadang perahu dengan ombak dahsyat serta batu-batu megalitik yang mampu menghancurkan benda apapun yang menghantamnya. Tak jarang penumpang harus turun dan ikut menarik perahu bersama sang motoris dan juru batu jika jeram yang dihadapi tak bersahabat. Tak kurang sekitar dua puluh jeram sepanjang perjalanan ke Tanjung Lokang. Tiga yang terganas diantaranya adalah Riam Bakang, Homatop dan Hororoy. Sungguh petualangan yang sesungguhnya.
terbilang masih perawan, perjalanan menuju desa yang dihuni oleh masyarakat Punan Hovongan ini merupakan petualangan tersendiri. Jeram-jeram ganas siap menghadang perahu dengan ombak dahsyat serta batu-batu megalitik yang mampu menghancurkan benda apapun yang menghantamnya. Tak jarang penumpang harus turun dan ikut menarik perahu bersama sang motoris dan juru batu jika jeram yang dihadapi tak bersahabat. Tak kurang sekitar dua puluh jeram sepanjang perjalanan ke Tanjung Lokang. Tiga yang terganas diantaranya adalah Riam Bakang, Homatop dan Hororoy. Sungguh petualangan yang sesungguhnya.
Sesampai
di Tanjung Lokang, wisatawan akan menemui kehidupan yang berbeda.
"Serasa dilempar ke masa lalu", itu yang sering terlontar dari bibir
mereka. Hal itu tidak berlebihan mengingat masyarakat Punan Hovongan
yang merupakan salah satu sub etnis Dayak ini masih memelihara adat
istiadat dan tradisi turun temurun. Mereka masih menambang emas dan
berladang secara tradisional. Dan walaupun sudah tidak tinggal dalam
suatu rumah panjang, rumah mereka masih berdiri di atas pancang-pancang
kayu. Masih terlihat pula orang-orang bertato tribal bertelanjang kaki
keluar masuk hutan dengan mandau di pinggang. Para penduduk selalu
ramah menyambut kedatangan para tamu. Kopi dan rokok adalah sajian yang
tidak pernah terlupa. Tarian penghormatan ditampilkan. Para tetua tidak
pernah enggan menjawab pertanyaan tetamu tentang asal usul dan adat
istiadat setempat. Bahkan jika pandai mengambil hati dan membujuk,
mereka tak sungkan menyangon (menyanyikan kidung sejenis mantra – red) sebuah keahlian yang kini hanya dimiliki oleh para sesepuh saja.
Menumbuk
padi, membuat perahu, bersampan ke hulu sambil mencari ikan atau
berburu adalah beberapa kegiatan sehari-hari yang dapat dilakukan
bersama masyarakat setempat. Jika senang trekking, kampung Bu'ung dapat
menjadi tujuan singkat. Tanjung Lokang juga memiliki gua-gua bernilai
sejarah yang dapat dieksplorasi, seperti Diang Kaung dan Diang Peyang
yang didalamnya terdapat lukisan tentang kehidupan masa lalu dan Gua
Tahapun yang menyimpan rahasia penguburan para leluhur. Pencinta
trekking dapat mencoba Cross Broneo Expedition, ekspedisi melintasi
hutan rimba di pegunungan Muller hingga ke perbatasan Kalimantan Timur
yang memakan waktu kurang lebih dua minggu.
Kehidupan sederhana di Tanjung Lokang
sebenarnya didukung pula dengan minimnya teknologi yang tersedia sebagai
akibat mahalnya biaya transportasi dan beratnya medan perjalanan untuk
mencapai desa ini. Minimnya listrik tergantikan dengan langit cerah
bertabur bintang dan suara jangkrik yang riuh mengantar tidur. Dan siapa
yang butuh biusan sinetron di televisi serta internet apabila ada
berbagai macam kegiatan yang bisa dilakukan. Begitulah Tanjung Lokang,
permata cantik di paru-paru dunia.
No comments:
Post a Comment